“Love Talks to Love”
Lama sudah abai pada puisi, rindu datang tinggal kenangan lama,
tapi tak banyak, tak ada lagi, sajak yang mengharubiru seperti dulu.
Lalu ketemu blalangkupukupu, katanya salah seorang jawara di rimba mailinglist
dan aktivis dunia maya—yang tak cukup kupahami petanya
yang jelas produktivitas dan dokumentasi puisi karyanya
membuatku ragu untuk membacanya: aku ragu pada diriku sendiri
yang tak lagi punya nyali dengan puisi.
Lalu ketemu blalangkupukupu, katanya salah seorang jawara di rimba mailinglist
dan aktivis dunia maya—yang tak cukup kupahami petanya
yang jelas produktivitas dan dokumentasi puisi karyanya
membuatku ragu untuk membacanya: aku ragu pada diriku sendiri
yang tak lagi punya nyali dengan puisi.
Lalu ia, si blalangkupukupu itu, meluncurkan 5 buku puisinya.
Gila!!! Siapa bilang puisi telah mati? Siapa bilang menerbitkan buku harus berbelit-belit
dengan urusan teknis dan duniawi? Inilah puisi!
Ayo, siapa berani membacanya? Siapa setia berkarya seperti dirinya?
Siapa mau memberi bukti dan bukan promosi dan janji seperti iklan dan politisi?
Mau jadi penyair? Bersyairlah!
Mau jadi penulis? Menulislah, dan terbitkanlah
dengan urusan teknis dan duniawi? Inilah puisi!
Ayo, siapa berani membacanya? Siapa setia berkarya seperti dirinya?
Siapa mau memberi bukti dan bukan promosi dan janji seperti iklan dan politisi?
Mau jadi penyair? Bersyairlah!
Mau jadi penulis? Menulislah, dan terbitkanlah
dengan berani dan penuh nyali!!!
Inilah dia:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar